Untuk aku bisa sampai ke detik ini, rasanya mimpi...
Cincin emas putih yang melingkari jari manis tangan kananku...
Kamar tidur yang masih terasa asing,
Suara air kolam yang terdengar konstan dan menenangkan dari luar jendela, bercampur suara televisi dari kejauhan....
Sekarang, Aku ini sudah resmi jadi istri orang.
.....
Rasanya aneh,
.....
Ngomong-ngomong, sekarang sudah jam 9.16 malam. Hari ini hari pertama aku menunggu suamiku pulang kantor setelah kami menikah,
Suamiku masuk kerja jam 9 pagi dan baru bisa pulang lepas 9 malam. Dari Jakarta dia harus menempuh perjalanan jauh ke rumah,
Sekarang kami masih tinggal di rumah orang tua suamiku di Bekasi. Moga-moga dalam waktu dekat, Allah kasih rezeki buat kami punya rumah sendiri, aamiin.
Umurku saat menikah 22 tahun, suamiku lebih tua 2 tahun. Kalau dipikir-pikir, masih banyak orang yang menikah lebih muda dari kami... tapi rasanya di zaman sekarang, untuk menikah diusia 22 tahun pun terhitung cepat.
Bukanya aku nggak senang sih.
Dari awal kami pacaran, suamiku memang sudah punya tujuan yang serius. Lebihnya 3 tahun kami menjalin hubungan, dan disinilah aku sekarang. Benar-benar menikah dengan dia.
....
Lagi-lagi rasanya aneh,
....
Maksudku, waktu cepat sekali berlalu.
Syukur, semua prosesi pernikahan kami berlangsung lancar.
Tepat seminggu setelah aku sidang skripsi dan dinyatakan lulus, dia datang ke rumah dan meminta izin untuk serius kepada orang tuaku. Orang tuaku bukannya tipe orang tua yang menyulitkan, meski memang mereka punya harapan aku untuk bekerja dulu selepas kuliah, mereka tetap memberi restu untuk aku segera menikah,
2 minggu setelahnya, suamiku dan orang tuanya datang ke rumah. Perkenalan pertama antar kedua keluarga. Syukurnya lagi, kedua orang tua kami sama-sama orang yang welcome. Aku memang nggak berniat untuk melanjutkan hubungan ini kalau-kalau keluarga kami kurang 'sreg' satu sama lain. Buat apa? Aku tahu pernikahan itu bukan hanya antara aku dan dia, tapi juga keluarga secara keseluruhan.
Dari situ, waktu bergulir tak terasa,
Tanggal 10 Maret 2018 kami lamaran, dimana saat itu aku pertama kali bertemu dengan keluarga besarnya. Syukur, semua berjalan dengan lancar.
Bagiku, menjadi sosok pemeran utama bukan kebiasaan. Dan semua prosesi ini otomatis membuat orang-orang mengarahkan perhatiannya padaku. Rasanya salah tingkah, tapi senang juga. Dari pernikahan ini aku tahu kalau banyak orang yang perhatian padaku,
Tanggal 7 Juli 2018, kami menikah.
Semuanya kuniatkan untuk ibadah. Agar kita selamat dunia akhirat. Agar kita bahagia.
Aku bukannya yakin banget kalau aku sudah siap jadi seorang istri. Tapi aku siap menjalani semua prosesnya sebaik yang aku bisa.
Aku yang super manja. Aku yang takut-takut. Aku yang belum bisa masak. Aku yang suka merasa socially-awkward. Aku dengan semua kekuranganku...
Doa yang selalu aku lantunkan adalah agar aku jadi orang yang disayang orang-orang sekitarku. Terutama keluarga baruku.
Karena aku langsung tinggal di rumah orang tua suamiku, yang sekarang juga orang tuaku, banyak hal yang harus aku pelajari. Meski begitu, aku benar-benar bersyukur karena selama ini hanyalah kebaikan yang aku terima... dan semoga, kedepannya dan selamanya juga akan begitu.
Kata banyak orang, kehidupan pernikahan itu nggak selalu indah dan menjadi istri itu nggak mudah. Itu benar sih. Tapi bukannya Allah nggak akan kasi ujian yang melampaui batas kemampuan hambanya?
Apapun yang terjadi, aku yakin kalau aku bisa jadi istri yang baik dan kehidupan pernikahanku akan bahagia!
Untuk sekarang, cukup dulu. Nanti aku lanjut lagi ya. Hehe.
Cincin emas putih yang melingkari jari manis tangan kananku...
Kamar tidur yang masih terasa asing,
Suara air kolam yang terdengar konstan dan menenangkan dari luar jendela, bercampur suara televisi dari kejauhan....
Sekarang, Aku ini sudah resmi jadi istri orang.
.....
Rasanya aneh,
.....
Ngomong-ngomong, sekarang sudah jam 9.16 malam. Hari ini hari pertama aku menunggu suamiku pulang kantor setelah kami menikah,
Suamiku masuk kerja jam 9 pagi dan baru bisa pulang lepas 9 malam. Dari Jakarta dia harus menempuh perjalanan jauh ke rumah,
Sekarang kami masih tinggal di rumah orang tua suamiku di Bekasi. Moga-moga dalam waktu dekat, Allah kasih rezeki buat kami punya rumah sendiri, aamiin.
Umurku saat menikah 22 tahun, suamiku lebih tua 2 tahun. Kalau dipikir-pikir, masih banyak orang yang menikah lebih muda dari kami... tapi rasanya di zaman sekarang, untuk menikah diusia 22 tahun pun terhitung cepat.
Bukanya aku nggak senang sih.
Dari awal kami pacaran, suamiku memang sudah punya tujuan yang serius. Lebihnya 3 tahun kami menjalin hubungan, dan disinilah aku sekarang. Benar-benar menikah dengan dia.
....
Lagi-lagi rasanya aneh,
....
Maksudku, waktu cepat sekali berlalu.
Syukur, semua prosesi pernikahan kami berlangsung lancar.
Tepat seminggu setelah aku sidang skripsi dan dinyatakan lulus, dia datang ke rumah dan meminta izin untuk serius kepada orang tuaku. Orang tuaku bukannya tipe orang tua yang menyulitkan, meski memang mereka punya harapan aku untuk bekerja dulu selepas kuliah, mereka tetap memberi restu untuk aku segera menikah,
2 minggu setelahnya, suamiku dan orang tuanya datang ke rumah. Perkenalan pertama antar kedua keluarga. Syukurnya lagi, kedua orang tua kami sama-sama orang yang welcome. Aku memang nggak berniat untuk melanjutkan hubungan ini kalau-kalau keluarga kami kurang 'sreg' satu sama lain. Buat apa? Aku tahu pernikahan itu bukan hanya antara aku dan dia, tapi juga keluarga secara keseluruhan.
Dari situ, waktu bergulir tak terasa,
Tanggal 10 Maret 2018 kami lamaran, dimana saat itu aku pertama kali bertemu dengan keluarga besarnya. Syukur, semua berjalan dengan lancar.
Bagiku, menjadi sosok pemeran utama bukan kebiasaan. Dan semua prosesi ini otomatis membuat orang-orang mengarahkan perhatiannya padaku. Rasanya salah tingkah, tapi senang juga. Dari pernikahan ini aku tahu kalau banyak orang yang perhatian padaku,
Tanggal 7 Juli 2018, kami menikah.
Semuanya kuniatkan untuk ibadah. Agar kita selamat dunia akhirat. Agar kita bahagia.
Aku bukannya yakin banget kalau aku sudah siap jadi seorang istri. Tapi aku siap menjalani semua prosesnya sebaik yang aku bisa.
Aku yang super manja. Aku yang takut-takut. Aku yang belum bisa masak. Aku yang suka merasa socially-awkward. Aku dengan semua kekuranganku...
Doa yang selalu aku lantunkan adalah agar aku jadi orang yang disayang orang-orang sekitarku. Terutama keluarga baruku.
Karena aku langsung tinggal di rumah orang tua suamiku, yang sekarang juga orang tuaku, banyak hal yang harus aku pelajari. Meski begitu, aku benar-benar bersyukur karena selama ini hanyalah kebaikan yang aku terima... dan semoga, kedepannya dan selamanya juga akan begitu.
Kata banyak orang, kehidupan pernikahan itu nggak selalu indah dan menjadi istri itu nggak mudah. Itu benar sih. Tapi bukannya Allah nggak akan kasi ujian yang melampaui batas kemampuan hambanya?
Apapun yang terjadi, aku yakin kalau aku bisa jadi istri yang baik dan kehidupan pernikahanku akan bahagia!
Untuk sekarang, cukup dulu. Nanti aku lanjut lagi ya. Hehe.
Comments
Post a Comment